Lelah
Lelah kesulitan tidur di setiap malam.
Lelah melalui hari-hari dengan kecemasan.
Lelah melangkah dengan pundak yang berat.
Lelah menghadapi masalah yang tak ada habisnya.
Mungkin, selama ini, aku selalu mengeluh.
Kali ini, aku akan bersyukur.
Atas hadirnya masalah-masalah ini.
Aku. Akan. Bersyukur.
Aku bukan hamba yang paling baik.
Aku melakukan kesalahan ini-itu.
Mungkin musibah ini adalah balasan atas kesalahan-kesalahan yang pernah ku perbuat.
Cara Allah untuk menggugurkan dosa-dosaku.
Cara Allah agar aku sadar atas kesalahanku.
Cara Allah agar aku kembali kepada-Nya.
Bukankah ini patut kusyukuri?
Sungguh, itu lebih baik daripada dibiarkan terlena dalam kesalahan, terjebak dalam limpahan rezeki, mengira kehidupanku diberkahi, padahal azab yang besar sedang ditunda, bukankah ini patut kusyukuri?
Dan balasan di dunia jauh lebih ringan dibandingkan balasan di akhirat. Mudah-mudahan, dengan ujian yang beruntun ini, tak ada lagi balasan di akhirat. Mudah-mudahan ini juga jadi ladang pahala bagiku. Belajar bersabar di atas takdir yang Allah tentukan, yang mudah-mudahan berbuah baik. Berupa rahmat Allah yang uas. Pahala yang tak terbatas. Dan surga.
Jika ini terasa seperti memburuk, dan hatiku terasa semakin sesak, aku harus mengingatkan diriku,
“Beginilah Hidup, kumpulan ujian. Takdir telah Allah tentukan dan Allah Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dia mengatur semua ini dengan sebaik-baiknya. Apa yang kamu ragukan? Sungguh, Allah mendengar doa hamba-Nya, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” [Qur’an: 2:155].
Komentar
Posting Komentar